Refleksi Kepemimpinan Pemerintahan Dalam
Menangani Kebencanaan dan Strategi Stakeholder yang di Gunakan
Dragon
Chandra Suwanto / 202010050311177
Universitas
Muhammadiyah Malang
gambaran
umum lokasi atas fokus isu
Kebencanaan
merupahan hal yang perlu di waspadai oleh setiap orang, di setiap waktu dan
setiap saat. Bencana merupakan peristiwa atau rangkaian peristiwa yang
mengancam dan menganggu kehidupan dan penghidupan nonalam maupun faktor manusia
sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusi, kerusakan lingkungan alam
, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Seperti pengalaman purna bupati
Bojonegoro yakni Kang Yoto, kang yoto merupakan tokoh inspirasi atau
transformasi dari Bojonegoro dalam implementasi transformasi kepemimpinan di
bojonegoro ini terdapat juga tantangan yang harus dihadapi yaitu perumusan
kebijkan yang efektif, transformasi kepemimpinan Kang Yoto di landasi dan di
dukung dengan enam pilar transformasi yakni: visi, strategi, pengaturan,
manajemen operasional, budaya, semangat dan niat. Di Bojonegoro merupakan daerah
yang rawan banjir karena secara geografis di Bojonegoro terdapat aliran sungai
bengawan solo dan pada masa lalu Bojonegoro merupakan lautan.
Luapan
air bengawan solo yang sering melanda di daerah bojonegoro tersebut mulai dari
ujung barat margomulyo sampai baureno dapat merendam area persawahan, jalan
desa, dan fasilitas umum seperti musholla, gedung sekolah dan pemukiman warga.
Latar
Belakang Permasalahan
Yang
melatarbelakangi masalah di kasus ini yaitu luapan banjir di Bojonegoro dan
bagaimana Pemerintah manangani kasus seperti ini mulai dari strategi dan
stakeholder yang di lakukan oleh pemimpin politiknya, krisis kesehatan publik,
kenbencanaan, masalah pendidikan dan sifat kepemimpinan yang di pelajari. Serta
apa hasil yang telah di lakukan mulai dari yang negatif maupun positif.
Dengan kasus yang saya ambil
ini, saya mengambil contoh dari pengalaman Kang Yoto yang dulu pernah menjabat
dua periode sebagai Bupati bojonegoro selama sepuluh tahun pada periode 2008 –
2013 dan 2013 – 2018, beliau juga merupakan tokoh pendidikan, tokoh politik
dari partai Nas Dem.
Apa
yang strategy yang dilakukan oleh pemimpin politiknya?
Strategi
yang di gunakan Kang Yoto untuk menanggulangi bencana banjir ini dengan cara
sidak terjun langsung ke lapangan untuk memeriksa sekaligus membantu di
pengungsian, dan membantu membendung tanggul yang jebol akibat dari dampak
banjir, Kang Yoto memiliki strategi untuk meminimalisir korban dengan cara
memberikan informasi kepada masyarakat tentang ketinggian air bengawan solo, dan
mengajak masyarakat untuk update perkembangan informasi. Bersinergi dengan
polri, TNI, FFORPIMDA, dan lebaga dinas lainnya. Meningkatakan keaspadaan
melalui analisis ketinggian air dan menghimbau untuk setiap warga siap sedia
menghadapi bencana, Menyiapkan fasilitas kesehatan berupa tim reaksi cepat,
obat obatan, sarana prasarana, pusat kesehatan masyarakat di lingkungan daerah
sungai bengawan solo, dan memepersipakan diri bagi masyarakat untuk menyambut
bencana banjir. Memperkuat stakeholder dalam pembangunan kesehatan untuk
masyarakat terdampak.
Bagaimana
mengelola Stakeholder yang mendukung dan yang menolak, serta apa saja yang
dilakukan oleh stakeholders tersebut?
Salah
satu pemerintah daerah yang telah menerapkan Sustainable development goals (SDGs)
pembangunan manusia adalah Pemerintah Kabupaten Bojonegoro Pemerintah kabupaten
Bojonegoro di bawah pimpinan Suyoto atau yang biasa dipanggil Kang Yoto yang
memimpin Kabupaten Bojonegoro. Pemerintah kabupaten menyatakan bawa secara
resmi Bojonegoro memulai sustainable development goals (SDGs) diawali dengan
pemukulan gong oleh Bupati Bojonegoro, Kang Yoto pada kegiatan yang
dilaksanakan oleh World Bank Pemerintah kabupaten Bojonegoro kemudian
mengeluarkan Keputusan Bupati Bojonegoro Nomor 188 tentang Gugus Tugas dalam
Pelaksana Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/
SDGs) Kabupaten Bojonegoro. SDGs di Bojonegoro pernah diteliti dalam Analisa
Sustainable Development Goal’s Kabupaten Bojonegoro pada tahun 2017. Sebagian
pemerintah daerah yang memiliki kekurangan kapasitas untuk melaksanakan
implementasi, akan tetapi kerangka peraturan yang kuat ada melalui Peraturan
pemerintah Gubernur.Melalui peraturan gubernur atau peraturan bupati, di setiap
beberapa daerah menunjukkan kesiapannya dalam mensukseskan SDGs dengan melalui
pendekatan yang lebih spesifik dan disesuaikan dengan kondisi situasi
daerahnya.
Penelitian
yang dilakukan untuk mengetahui posisi
awal pembangunan berkelanjutan/SDG’s Kabupaten Bojonegoro. Kabupaten Bojonegoro
memiliki kelembagaan khusus tentunya unit kerja yang akan menangani SDGs,
menyusun Rencana Aksi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan yanfg di gunakan untuk
Tahun 2018-2022, menggunakan sistem One Data atau Data Tunggal untuk menangani sumber
pengelolaan data yang terdapat dalam sketsa pengoptimalian pelaksanaan SDG’s,
mengintensif koordinasi antar stakeholder yang termasuk dalam pelaksanaan SDG’s
dan mencetuskan regulasi yang mengatur pelaksanaan SDGs. Sebagian dari pemerintah
daerah juga telah menentukan target strategis untuk mencapai SDGs tetapi tergantung
pada dukungan yang diberikan oleh pemerintah dan stakeholder, tetapi juga
banyak stakeholder yang tidak memiliki pengetahuan, dana, sumber infrastruktur
sehingga menghambat proses pencapaian SDGs. Tetapi pendekatan tersebut masih di
bilang kurang efektif karena Indonesia menghadapi tantangan terutama di tingkat
lokal. Nilai rendahnya dalam tingkat lokal sebagian besar diakibatkan oleh
kurangnya sistem koordinasi yang mengikutsertakan berbagai stakeholder dan
kurang memadainya kapasitas, pengalaman.
Stakeholder
untuk mengatasi bencana banjir ini pemerintah Bupati atau Kang Yoto memiiki
strategi yang di nilai pro dan kontra oleh masyarakat, sebagai masyarakat
kalangan kontra pada pemerintahan Bupati Kang Yoto, masyarakat beranggapan
bahwa dalam menanggulangi Kang Yoto kurang efektif karena dalam pembendungan
banjir di desa ada yang di nilai kurang adil padahal pembendungan itu inisiatif
dari rt atau rw setempat. Masyarakat yang menilai kinerja Kang Yoto positif
dalam menangani kasus banjir ini beranggapan bahwa strategi yang di
implementasikan oleh Kang Yoto di nilai cukup efektif karena nyata mengurasi
dampak resiko kerugian dari bencana banjir yang terjadi di bojonegoro mulai
dari pemberian informasi terhadaap warga agar selalu waspada akan tingginya
volume air dan secara tidak langsung. Pusat pelayanan kesehatan masyarakat sangat berperan penting dalam menyikapi hal
ini karena pusat kesehatan masyarakat mempunyai tiga tugas untuk melaksanakan
kebijakan sehetan untuk mencapai tujuan pembangunan kesehatan di wilayah
kerjanya. Pusat kesehatan masyarakat saat terjadinya bencana di tugaskan untuk
mempunyai kesiap siagaan yang harus di siapkan sebelum terjadinya bencana mulai
dari sumber daya manusianya yang cepat tanggap, pelayanan kesehatan, sarana dan
prasarana yang mumpuni, pengobatan, dukungan dana, informasi. Kang Yoto terjun
ke lapangan untuk membantu korban terdampak dengan bersinergi bersama polri,
TNI dan jajaraannya. Dalam pengelolaan stakeholder tersebut banyak yang di
nilai positif atau sukses dalam menyelamatkan kondisi resiko terdampak yaitu
penduduk.
Tentang
pendidikan saya mendapatkan informasi dari berita yakni detakpos.com dengan
judul sabutan Kang Yoto Menghadirkan Masa Depan Gemilang Dengan Sembilan
Ketrampilan hidup. Di berita ini saya menangkap
kata kata sambutan dengan tema “meghadirkan masa depan gemilang dengan
sembilan keterampilan hidup”. Keterampilan tersebut mulai dari: ketrampilan
berniat baik, berkarya yang dapat mendapatkan pendapatan, keterampilan
berkomunikasi, keterampilan team work, keterampilan berfikir, keterampilan
berinovasi, dan keterampilan mengelola hati dan hidup sehat mandiri, dan yang
terakhir tangguh dan unggul dalam mengatasi kebencanaan. Menurut Kang Yoto
pendidikan merupakan cara peningkatan keterampilan diri pada setiap pelajar dan
mempersiapakan diri menghadapi masa depan dengan mapan dan menjadi kiri sebagai
karakter yang beretika baik. Kang Yoto juga berharap pendidikan menjadikan
penguatan sumber daya manusia menjadi unggul dan siap menangani masa depan
serta generasi bangsa, pendidikan untuk siap bencana juga penting dikarenakan
Bojonegoro juga memiliki aliran sungai yang sering meluap sehingga Kang Yoto
memberikan pesan untuk siap siaga bencana supaya dapat meminimalisir resiko
atau dampak pada pelajar.
Pengalaman yang di miliki oleh
Kang Yoto merupakan pengalaman yang heroik dan bisa menjadi contoh sebagai
pemimpin yang luar biasa cara atau strategi kepemimpinannya yang di nilai
manarik dan terkenal sehingga cara tersebut banyak di tiru oleh kalangan
pemimpin lainnya. Kang Yoto sebagai dosen mata kuliah pernah mengatakan bahwa
sebagai pemimpin itu harus berani, tangguh dan berani menerima keritik, sebab
kritik merupakan rumusuan masalah pada kinerja yang dapat di gunakan sebagai
evaluasi kinerja sehingga dapat di perbaiki menjadi lebih baik dan maju,
pemimpin yang bersifat terbuka lebih cenderung efektif dalam berkinerja dan
terhindar dari korupsi, Kang Yoto banyak membawa perubahan pada Bojonegoro
hingga masuk dalam acara televisi mata najwa dan hitam putih.
Kang Yoto pernah memberikan
penjelasan tentang tujuh elemen kepemimpinan politik dalam pemerintahan, yang
beliau terapkan mulai dari personal leadership, statesmen leadership,
development leadership, political leadership, social and cultural leadership,
administrastion leadership, team leadership. Ilmu tentang kepemimpinan dalam politik
pemerintahan ini sangat relefan pada era sekarang karena poin point penting
yang terkandung dalam tujuh element tersebut dapat mensukseskan tujuan.
Bagaimana
hasil dari pengelolaannya?
Dalam Kasus kebencanaa banjir
di bojonegoro ini membuahkan hasil yakni berkurangnya resiko kerugian korban
banjir, masyarakat sekitar aliran sungai bengawan solo mendapatkan perhatian
penuh dari bupati Kang Yoto, terjunnya Kang Yoto ke lapangan juga menjadi
sebuah apresiasi dari masyarakat sekitar karena pemimpin benar benar membatu
ketika anggota atau masyrakat membutuhkan bantuan. Strategi upaya stakeholder
untuk memenuhi tujuan kemanusiaan tercapai mulai dari memberikan kewaspadaan
terhadap masyrakat dan informasi secara langsung. Daerah rawan banjir di ubah
menjadi resapan air dan kawasan produktif. Tentang krisis kesehatannya kesiapan
siagaan puskemas terhadap banjir bengawan solo juga di perlukan dan melakukan
perhatian yang cukup penting untuk dapat mengurangi resiko terjadinya masalah
pada kesehatan. Untuk mengamati kesiapan puskesmas dalam menyikapi bencana
banjir dari luapan sungai bengawan solo di lakukannya dengan cara survey awal.
Puskesmas sebagai sarana pelayanan kesehatan untuk masyarakat.
Masyarakat menjadi lebih
produktif dan menjadikan banjir sebagai sahabat, banjir yang awalnya menjadi
hantu bagi masyarakat sekarang tidak lagi karena banjir menjadi merugikan
masyarakat melainkan dapat menguntungkan
masyarakat.
Rujukan
teoritis atau model perbandingan dari studi literature terdahulu
ANALISIS GENANGAN BANJIR AKIBAT LUAPAN BENGAWAN SOLO UNTUK
MENDUKUNG PETA RISIKO BENCANA BANJIR DI KABUPATEN BOJONEGORO
Strategi Komunikasi Pembangunan Pemerintah Kabupaten
Bojonegoro dalam Menerapkan Nawacita dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
Sambutan Kang Yoto : Menghadirkan Masa Depan Gemilang Dengan
Sembilan Keterampilan Hidup. Pada detakpos.com
Analisis Faktor Yang Mempengaruhi Kesiapsiagaan Puskesmas Di
Kabupaten Bojonegoro Dalam Menghadapi Bencana Banjir Bengawan Solo (Studi Di
Puskesmas Kanor)
Developing Public Leaders in an Age of Collaborative
Governance Ricardo S. Morse, Ph.D.
10 Tahun Kang Yoto Rendam Banjir dan Menyambut Bahagia 13 MARET 2018, 04: 00: 59 WIB | EDITOR
: EBIET A. MUBAROK
Bupati Bojonegoro Kang Yoto Beserta Forpimda Sidak Banjir
Bengawan Solo 2016 https://youtu.be/BnfU5uwACJY
http://www.tribunnews.com/tribunners/2016/02/25/bupati-bojonegoro-selamat-datang-banjir
saran
agar situasi dan kondisi semakin baik dari sebelumnya.
Pemimpim atau pemerintah kabupaten Bojonegoro periode
sekarang seharusnya dapat mencontoh metode yang di terapkan oleh Kang Yoto,
metode yang di terapkan oleh Kang Yoto terbukti dengan adanya analisis dari
BNPB selama periode Kang Yoto masalah banjir turun dan dapat di bilang
terminimalisir.
Supaya semakin baik mungkin bisa di buatkan waduk unuk
meanpung air yang dapat di gunakan pada saat kekringan melanda dan dapat juga
di jadikan suber air bersih dengan cara penyaringan. Selain itu banjir dapat
menjadi tempat wisata memancing ikan.
Pembuataan sekat atau tembok untuk menhindari air masuk ke
dalam pemukiman warga, dan pengelebaran sungai.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar